Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah (P3ID) adaloah lembaga otonom yang bergerak di bidang kajian akademis dan ilmiah dan bertujuan untuk mengembangkan Ilmu Dakwah

05 Desember 2008

Khutbah Iedul Adha 2008

MENELADANI KEHIDUPAN NABI IBRAHIM*
(Oleh: Drs. Masran, M. Ag.)
الله أكبر (تسع مرات). الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلاً، لاإلـه إلاالله وحده، صدق وعده ونصر عبده وأعزّ جنده وهزم الأحزاب وحده. لاإلــه إلا الله ولا نعبد سواه، مخلصين له الدين ولوكره المشركون.
الحمد لله الذى جعل هذا اليوم عيدا للمسلمين. و جعل الصلاة و الأضحية فيه شعارا من شعائر الله للمتقين. أشهد أن لاإلــه إلا الله وحده لاشريك له الملك الحق المبين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صادق الوعد الأمين . اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبع هداه إلى صراط مستقيم.
أما بعد، فيا عباد الله ! أوصيكم و إياي بتقوى الله وطاعته فقد فاز المتقون .
وقال الله تبارك وتعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم
،

يابنيّ إني أرى في المنام أنّي أذبحك فانظر ماذا ترى قال يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين



الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر
Maha Besar Allah yang telah melimpahkan ni’mat hidup dan kehidupan bagi kita semua, yang telah mempertemukan tambatan hati dengan hati sesama kaum muslimin, di tempat ini dan pada pagi hari ini.
Maha Agung Allah, Dzat Yang telah menciptakan segala makhluk-Nya di jagat raya ini, termasuk menciptakan umat manusia yang beraneka ragam corak pemikiran dan tingkah lakunya.
Segala puji milik Allah, satu-satunya Dzat yang layak dipuji dan disanjung karena kebesaran dan keagungan-Nya. Oleh sebab itu, manusia, sebenarnya tidak berhak untuk dipuji, sebesar apa pun prestasi yang diraihnya. Kalaupun kita memuji seseorang, maka pada hakekatnya kita memuji Allah, karena Allah lah yang telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk berprestasi.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Hadirin, Sidang Ied yang Berbahagia!
Sejak terbenamnya matahari di upuk Barat kemarin sore, hingga pagi hari ini, bahkan hingga akhir hari tasyriq nanti, tak henti-hentinya terdengar suara Takbir, Tahmid dan Tahlil yang dikumandangkan oleh setiap umat Islam di seantero dunia., termasuk di tempat kita melaksanakan shalat ‘Ied di tempat ini. Walaupun sebagian di antara saudara-saudara kita ada yang merayakannya kemarin, namun hal ini diharapkan tidak akan mengurangi nilai-nilai persaudaraan dan rasa kebersamaan yang sudah mengakar di antara kita.
Kalimat Takbir itu dengan penuh kesadaran kita ucapkan, sebagai ikrar terhadap Ke-Mahabesaran Allah, Tuhan Pencipta dan Penguasa alam semesta.
Sahut-sahutan gema suara takbir yang kita kumandangkan sejak tadi malam, jika kita hayati maknanya dengan seksama, maka akan membuat bulu kuduk merinding, dan rasa hati tercekam oleh hakekat keagungan serta Kemaha besaran Allah.
Betapa tidak, bumi yang kita tempati ini saja, sudah terasa sangat besar dan luas, sehingga tak ada seorang manusia pun di dunia ini yang bisa menjelajahi seluruh bagian dari permukaan bumi ini. Padahal, bumi ini hanya lah merupakan sebuah benda kecil yang diciptakan oleh Allah Swt. Di sisi Allah, ia bagaikan sebutir biji padi yang terdapat di tengah hamparan sawah yang sangat luas. Karena, di jagat raya ini, menurut para fisikawan (A. Baiquni, 1994: 15), terdapat lebih dari 100 miliyard galaksi, yang masing-masing galaksi berisi rata-rata 100 milyard bintang dan planet. Salah satu di antara 100 milyard galaksi itu terdapat satu galaksi yang bernama galaksi Bima Sakti. Dalam gugusan galaksi Bima Sakti terdapat sembilan planet. Salah satu di antara planet-planet itu adalah planet bumi yang kita tempati ini. Kalau kita telusuri lebih jauh lagi, ternyata bumi yang kita tempati ini pun masih sangat luas. Ia dihuni oleh jutaan jenis makhluk hidup, salah satu diantaranya adalah manusia yang pada saat ini jumlahnya sekitar enam milyard jiwa.
Kesemuanya itu hanya merupakan sebagian kecil dari makhluk ciptaan Allah yang diketahui oleh manusia. Selain dari itu, masih banyak lagi tanda-tanda kebesaran Allah yang belum terjangkau oleh akal dan indra manusia. Bahkan, menurut firman Allah dalam Alquran:
             •     •    
Maksudnya: Andaikata seluruh pepohonan yang ada di permukaan bumi ini diolah untuk dijadikan pena, dan seluruh air laut dijadikan tinta, kemudian ditambah lagi dengan tujuh kali laut yang sudah ada, niscaya masih tidak akan cukup untuk menulis kalimat-kalimat Allah yang menunjukkan kemaha besaran-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Luqman/31: 27); Lihat Tafsir Al-Maraghy, 2001: Jilid 7, hal. 249.

Karena itu, tidak ada alasan bagi umat manusia untuk mengingkari ke-Mahabesaran Allah Swt., sebesar apa pun kekuasaan dan kehebatan yang mereka miliki. Sebagai konsekwensi logis dari pengakuan ini, maka wajib bagi setiap manusia untuk mematuhi perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Allahu Akbar, Maha Besar Engkau Ya Allah, yang telah melimpahkan ni’mat hidup kepada kami, sehingga kami dapat memenuhi seruan-Mu, melaksanakan shalat ‘Iedul Adha di Masjid yang agung ini.
Hadirin, Sidang ‘Ied yang berbahagia!
Pada hari raya ‘iedul-Adha ini, sebenarnya, ada tiga pristiwa penting yang dijadikan momentum amat bersejarah dalam kehidupan umat manusia. Yaitu:
(1) Shalat ‘Iedul Adhha, (2) Pelaksanaan Ibadah Hajji, dan (3) Penyembelihan Hewan Qurban.
Pelaksanaan Ibadah haji dan Penyembelihan hewan qurban merupakan syariat Islam yang terkait dengan perjalanan hidup Nabi Ibrahim beserta keluarganya dalam melaksanakan perintah Allah. Nabi Ibrahim yang hidup sekitar 4.000 tahun yang lalu, merupakan teladan yang baik bagi penganut agama-agama samawi, termasuk umat Islam. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal dalam mengarungi kehidupan ini.
Keteladanan Nabi Ibrahim beserta orang-orang yang bersamanya ditegaskan oleh Allah dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 4 sebagai berikut:
         ...
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan-nya “ ( QS Al Mumtahanah : 4 )
Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim dalam Alquran adalah firman Allah dalam surat Ash-Shaffat/37: 99 – 111.
Pada ayat 99, dengan menukil ucapan Nabi Ibrahim Allah berfirman:
      
“ Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabb-ku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku . “ ( Q. S. Al Shofat : 99 )
Berdasarkan ayat ini, setidaknya ada empat hikmah keteladanan Nabi Ibrahim yang bisa kita ambil:
1. Allah memerintahkan kita untuk berhijrah dan mencari tempat yang kondusif untuk beribadah kepada Allah dan berdakwah di jalan-Nya. Nabi Ibrahim as, setelah sekian tahun berdakwah pada kaumnya, ternyata bukan sambutan baik yang didapat, melainkan cercaan, hinaan, bahkan usaha pembunuhan terhadap dirinya. Ia dipaksa untuk menceburkan diri ke dalam api yang sedang menyala. Setelah Allah menyelematkan-nya, beliu diperintah untuk berhijrah ke negri Syam, dalam hal ini Palestina, untuk melanjutkan gerakan dakwah.
2. Allah memerintahkan kita untuk meluruskan niat dan membulatkan tekad hanya untuk mencari ridha Allah di dalam setiap perbuatan.
3. Allah memerintahkan kita agar senantiasa mengingat kematian, karena bagaimanapun juga hebatnya seseorang di dunia ini, akhirnya akan kembali juga kepada Allah swt . “ Inna Lillah wa Inna Ilahi Roji’un “ Kita adalah milik Allah dan akhirnya kita akan kembali kepada-Nya juga.
4. Yakinlah, bahwa Allah pasti akan memberikan petunjuk dan jalan keluar terhadap segala macam kesulitan yang kita hadapi, jika kita betul-betul berjuang pada jalan Allah, والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا(dan orang-otrang yang bersungguh-sungguh pada jalan Kami (Allah) pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami) [Q.S. Al-Ankabut/29: 69].

Ma’asyira Al Muslimin Rahimakumullah !
Pada lanjutan ayat di atas, Ash-Shaffat ayat 100 disebutkan, bahwa Nabi Ibrahim setelah pindah ke Syam ia berdo’a kepada Allah:
     
“ Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh “ ( Qs Al Shoffat : 100 )
Dari ayat ini dapat diambil tiga hikmah sebagai pelajaran bagi kita, yaitu:
  1. Kita harus menyakini bahwa hanya Allah saja yang menciptakan, mengatur dan merawat alam semesta ini. Dan hanya Allah-lah yang memberikan anak keturunan, yang menghidupkan dan yang mematikan, memberikan kita sakit dan yang menyembuhkan. Nabi Ibrahim as menyakini hal itu semuanya, oleh karenanya beliau memanggil Allah dengan kata “Rabb” yaitu Tuhan Yang memelihara dan Yang merawat .
  2. Setelah kita menyakini, bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Memelihara dan merawat manusia, maka sebagai konsekwensi logis dari keyakinan itu adalah - wajib bagi kita untuk tidak beribadah dan meminta pertolongan kecuali hanya kepada Allah semata-mata. Di sini, kita dapatkan nabi Ibrahim as tidak memohon kecuali kepada Allah agar dikarunia keturunan, anak yang shalih.
  3. Bahwa Allah mengajarkan kepada kita tentang adab berdo’a. Diantaranya adalah, bahwa kita seharusnya tidak meminta sesuatu kepada Allah swt. di dalam kehidupan ini, kecuali jika permintaan itu mengandung manfaat bagi kehidupan kita di dunia dan akherat secara bersama-sama. Dalam konteks ayat tersebut kita lihat umpamanya nabi Ibrahim as, tidak meminta keturunan kecuali keturunan yang sholeh, yaitu keturunan yang akan meneruskan perjuangannya di dalam menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam, keturunan yang akan selalu berbakti kepada orang tua di saat masih hidup, dan selalu mendo’akannya tatkala ia telah meninggal dunia. Harapan untuk memiliki keturunan bukan sekedar untuk mengurai kesepian di kala sunyi, mencari hiburan di kala sedih, dan bukan pula sekedar untuk mendapatkan pertolongan di kala kita lemah. Anak yang diharapkan adalah anak yang bermanfaat bagi kedua orang tuanya bagi kehidupan dunia dan akhirat. Demikian pula kalau kita berdo’a, memohon sesuatu kepada Allah, maka hendaklah kita minta suatu yang ada manfaatnya bagi kita di akhirat kelak. Seperti minta anak yang shalih, isteri yang sholihah, harta kekayaan yang berkah, ilmu yang bermanfaat, dll. Hal ini sesuai dengan do’a yang tersebut di dalam Q.S. Al Baqarah : 200-201 :
 ••               •            • 
“ Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. “ ( QS Al Baqarah : 200-201 )
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Kaum Muslimin, sidang ‘Ied yang berbahagia!
Pada ayat berikutnya, ash-Shaffat: 101, Allah menegaskan bahwa permohonan Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah, dengan firman-Nya:
   
“ Maka Kami beri dia khabar gembira, dengan seorang anak yang amat sabar “ . ( Qs Al Shoffat : 101 )
Dari ayat ini ada dua hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran:
1. Kalau kita sudah berdo’a secara sungguh-sungguh dan terus-menerus, tetapi Allah belum mengabulkan-nya juga, kita tidak boleh putus asa, karena putus asa terhadap rahmat Allah adalah sifat orang-orang yang tidak beriman. Sebagaimana firman Allah:
...                
“ Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”( QS Yusuf : 87 )
Nabi Ibrahim as sendiri tidak pernah putus asa dalam berdo’a, walaupun selama puluhan tahun do’nya belum diterima oleh Allah, baru pada masa tua-nya, do’a tersebut telah dikabulkan oleh Allah swt .
2. Kita wajib mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sekecil apapun nikmat tersebut. Atau bahkan nikmat tersebut baru kita dapat di akhir hidup kita. Nabi Ibrahim mencontohkan hal ini kepada kita, dia sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada-nya berupa anak walaupun baru terkabulkan di akhir umurnya. Beliau memuji Allah atas nikmat tersebut :
“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. “ ( QS Ibrahim : 39 )

Ma’asyira Al Muslimin yang dirahmati Allah!
Pada ayat berikutnya, ash-Shaffat: 102, Allah berfirman:
                            
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai Ayahndaku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepada ayahnda; insya Allah Ayahnda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” ( QS As Shofat : 102 )
Dari ayat ini ada lima hikmah yang bisa diambil:
1. Bahwa kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan di dalam kehidupan dunia ini, dan begitu pula di akherat nanti, kecuali jika kita mau mengorbankan apa yang kita cintai . Nabi Ibrahim as berhasil meraih predikat kholilullah ( kekasih Allah ), karena dia telah mampu mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai dalam hidupnya, yaitu seorang anak yang menjadi buah hatinya. Namun kecintaannya kepada Allah tak dapat dikalahkan oleh kecintaannya terhadap hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk anak sekalipun. Karena itu, dia korbankan kecintaannya kepada anaknya, demi mencapai suatu kebaikan yang hakiki, yakni kecintaannya kepada Allah swt. Sikap yang demikian ini sesuai dengan firman Allah swt :

            •    
« Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. « ( QS Ali Imran : 92 )
2. Bahwa kehidupan ini tidak kekal, dan banyak hal yang terjadi secara tiba-tiba di luar perkiraan kita. Kadangkala, kita dapatkan dalam kehidupan dunia ini hal-hal yang kita cintai justru malah cepat pergi dari kita; sebaliknya hal-hal yang kita benci malah datang terus kepada kita. Maka Allah menyebut kesenangan dunia ini dengan kesenangan yang menipu (وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور: آل عمران: 185), karena ia akan sirna, bahkan bisa berubah menjadi malapetaka, jika cara mengolahnya tidak sesuai tuntunan Allah swt.
3. Pelu diingat juga bahwa tidak setiap perkara yang kita benci pasti membawa mudharat bagi kehidupan kita. Terkadang yang terjadi adalah sebaliknya, musibah yang kita anggap akan mendatangkan malapetaka, ternyata malah membawa kita kepada kesuksesan besar di dalam hidup ini. Kita lihat umpamanya, yang dialami oleh nabi Ibrahim as, ketika diperintahkan Allah swt untuk meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil di tengah padang pasir, yang tidak ada tumbuh-tumbuhan dan air. Sebagai manusia, tentunya nabi Ibrahim tidak ingin mengerjakan hal tersebut kalau bukan karena perintah Allah swt. Sesuatu yang tidak dikehendaki nabi Ibrahim tersebut, ternyata telah menjelma menjadi sebuah ibadah haji yang dikemudian hari akan diikuti berjuta –juta manusia, dan dari peristiwa itu juga, keluarlah air zamzam yang dapat menghidupi jutaan orang dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Begitu juga, ketika nabi Ibrahim as. diperintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail, yang sangat dicintainya. Setiap orang yang masih mempunyai hati nurani yang sehat, tentu sangat tidak senang jika diperintahkan menyembelih anaknya sendiri. Tapi apa akibatnya ? Ketika kedua-duanya pasrah, Allah membatalkan perintah tersebut dan menggantikannya dengan kambing. Dari peristiwa ini, akhirnya umat Islam diperintahkan untuk berkurban setiap datang hari raya Idul Adha. Memang, kadang sesuatu yang kita benci, justru adalah kebaikan bagi kita sendiri. Allah berfirman :
...                      
“ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.( QS Al Baqarah : 216 )
4. Oleh karenanya, di dalam menghadapi ujian kehidupan dunia ini, kita harus sabar dan tawakkal, serta menyerahkan diri kepada Allah swt, sebagaimana yang dicontohkan nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Berbeda dengan orang –orang yang tidak beriman dan tidak mempunyai keyakinan kepada janji-janji Allah swt, mereka akan goncang dan stress jika kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, apalagi anaknya satu-satunya yang sedang beranjak dewasa. Data dari Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) menyebutkan bahwa 800 ribu orang dari penduduk dunia setiap tahunnya melakukan tindakan bunuh diri, 80 % nya disebabkan karena stress dan tidak kuat di dalam menghadapi berbagai problematika yang menimpa dirinya. Problematika –problematika tersebut berkisar pada masalah keluarga, pernikahan, anak, studi, pekerjaan dan lain-lainya. Dan menurut data tersebut, fenomena semacam ini paling banyak didapati di negara-negara maju, seperti Denmark, Norwegia, Perancis. Di Amerika Serikat sendiri didapatkan bahwa setiap 20 menit telah terjadi kasus bunuh diri, artinya setiap hari sebanyak 75 orang bunuh diri.
5. Kesenangan dunia yang diberikan Allah kepada kita, jangan sampai melalaikan kita dari beribadat kepada-Nya. Dalam rangka itulah, Allah swt setelah memberikan karunia anak yang sholeh kepada nabi Ibrahim as, dan pada saat anak tersebut beranjak menjadi dewasa, Allah swt hendak menguji nabi Ibrahim as, apakah anak yang telah lama dinanti-nantikan tersebut, yang telah lama dirawat dan didiknya sehingga menjadi dewasa dan sangat menyejukkan hati orang tuanya itu.. apakah akan melalaikannya dari ibadat dan taat kepada Allah swt ? disinilah nabi Ibrahim as diuji. Apakah dia lebih mencintai anak atau mencintai Allah swt ? Ternyata nabi Ibrahim as, secara baik telah mampu melewati ujian tersebut. Ia telah menempatkan kecintaannya kepada Allah di atas segala-galanya. Dia segera melaksanakan perintah Allah swt untuk menyembelih anaknya, dia sangat menyakini bahwa setiap yang diperintahkan Allah akan selalu berakibat baik. Sebaliknya, kalau dia tetap lebih mencintai anaknya dan melalaikan perintah Allah swt, niscaya dia termasuk orang –orang yang merugi. Allah swt berfirman :
“ Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. “ ( QS Al Munafiqun : 9 )

Ma’asyira Al Muslimin yang dirahmati Allah!
Pada ayat berikutnya, ash-Shaffat: 103, Allah berfirman:
    
“ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). “ ( Q. S. Al Shofat :103 )
Seorang hamba yang sabar ketika diuji oleh Allah swt, dan taat dengan segala perintahnya, serta pasrah dengan hukum-hukum-Nya, niscaya akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah, baik di dunia ini, maupun di sisi Allah pada hari akhir nanti.
Diantara balasan yang diberikan Allah kepada Ibrahim, sebagaimana disebutkan pada lanjutan ayat di atas (Ash-Shaffat: 104 – 109) adalah sebagai berikut :
1. Allah memberikan pujian dan predikat kepada Ibrahim sebagai orang berbuat baik (muhsinin) . Hal ini dapat dipahami dari Surat Ash-Shaffat ayat 104 dan 105, firman Allah:
            
“ Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim “ . sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu . sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.( Qs As Shofat : 104-105 )
2. Allah memberikan rizqi yang melimpah. Pada ayat 106-107 Allah berfirman :
         
Sesungguhnya hal ini adalah cobaan yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. “( Qs As Shofat : 107)
Nabi Ibrahim as, setelah pasrah penuh kepada perintah Allah, maka Allah memberikannya rizki berupa kambing kurban. Kita, kaum muslim in jika mengikuti langkah nabi Ibrahim di atas, niscaya akan mendapatkan rizki yang melimpah juga, seperti kesehatan, kemudahan, kelancaran dalam urusan-urusan, anak yang sholeh, keberhasilan studi, kemudahan di dalam mendapatkan pekerjaan dan lain-lainnya.
3. Nama baik dan perjuangannya dikenang oleh generasi selanjutnya. Allah berfirman :
    
“ Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. “ ( Qs As Shofat : 108 )
Perjuangan dan ketabahan nabi Ibrahim telah diabadikan dalam Al Qur’an yang akan dibaca kaum muslimin hingga hari kiamat, dan ditulis dengan tinta emas di dalam buku-buku sejarah. Dengan sikap pasrah terhadap perintah Allah, akhirnya nabi Ibrahim menjadi panutan umat sepanjang zaman.
4. Allah akan melimpahkan rahmat dan kedamaian serta keselamatan di dalam kehidupannya . Allah berfirman :
   
“ yaitu Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. “( Qs As Shofat : 109 )
Selain itu, generasi selanjutnya juga akan selalu mendoakannya. Paling tidak, lima kali sehari kaum muslimin mendo’akan keselamatan atas nabi Ibrahim dan keluarga serta keturunannya, tepatnya di akhir sholat, kita diperintahkan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad, sebagaimana shalawat dan keberkahan yang sama juga telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. Sebagaimana shalawat yang selalu kita baca pada tahiyyat akhir,
اللهم صل على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا ابراهيم و على آل سيدنا ابراهيم و بارك على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا ابراهيم و على آل سيدنا ابراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.


Saudara-saudara kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Semoga keteguhan hati dan semangat berkorban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s., dapat dijadikan teladan dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita tetap bersemangat dalam memperjuangkan kalimatullah, siap berkorban untuk melaksanakan perintah Allah, dan tetap dalam kesabaran ketika menghadapi berbagai macam cobaan.
Akhirnya, hanya kepada Allah jualah kita memohon limpahan rahmat dan karunia-Nya, semoga berbagai macam bencana dan kesulitan yang menimpa negeri kita belakangan ini dapat segera teratasi.
Untuk itu, marilah kita menengadahkan tangan dan merendahkan diri disertai hati yang ikhlash, memohon kepada Allah, dengan keyakinan bahwa do’a kita pasti didengar dan dikabulkan oleh Allah Rabul ‘Alamin. Amin!

اللهم يا هادي إلى صراط مستقيم
Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Memberi Petunjuk ke jalan yang lurus, tunjukilah kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhai, seperti jalan yang ditempuh oleh Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya, serta jalannya hamba-hamba-Mu yang shalih.
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك
Ya Allah, Hanya Engkaulah Dzat Yang dapat Membolak-balikkan hati manusia, tetapkanlah hati kami berada dalam kebenaran ajaran agama-Mu. Tabahkanlah hati kami menghadapi berbagai cobaan-Mu, dan janganlah Kau timpakan kepada kami cobaan yang tak sanggup kami memikulnya.
اللهم ياعزيز يا غفار
Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun! Dengan keperkasaan-Mu, selamatkanlah kami dari berbagai macam bencana yang menimpa negeri.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan orang tua kami, dosa dan kesalahan saudara-saudara kami yang seiman, baik mereka yang masih hidup maupun yang sudah mendahului kami.
اللهم يا رحمن يا رحيم
Ya Allah, Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, tiada seorang pun yang dapat bersyukur kepada Engkau sebagaimana mestinya, karena kasih sayang-Mu jauh lebih besar dari ungkapan rasa syukur kami kepada-Mu. Karena itu, berikanlah kami kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu, sehingga kami terlepas dari golongan orang-orang yang kafir nikmat.
Ya Allah, tiada seorang pun yang dapat berbuat thaat sesuai dengan hak-Mu untuk dithaati, karena kebaikan-Mu tak ada yang dapat menandingi.
اللهم يا رحمن يا ودود
Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Menanamkan naluri cinta dan kasih sayang di dalam hati setiap manusia! Bangkitkanlah semangat cinta dan kasih sayang itu dalam lubuk hati kami, sehingga hati kami menjadi lembut, memiliki rasa belas kasihan terhadap orang-orang yang lemah. Ya Allah, hapuskanlah dari dalam diri kami sikap angkuh, sombong dan takabbur, sehingga kami dapat menjalin hubungan shilaturrahmi dengan saudara-saudara kami atas dasar cinta dan kasih sayang.
اللهم يا أرحم الراحمين. Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Pemurah, limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepada kami, berkat kemuliaan ‘Iedul-Adha yang penuh hikmah ini; sehingga kami dapat menghadapi sisa-sisa hidup ini dengan pancaran taufiq dan hidayah-Mu. آمين يا رب العالمين

ربنا اغفر لنا و لإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ، ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ، ربنا إنك رؤوف رحيم.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين .
والحمد لله رب العالمين . آمّـــين

Khutbah ini merupakan kutipan dari Khutbah Iedul Adha, tulisan Ahmad Zein, Mesir.

Tidak ada komentar:

Powered By Blogger

Daftar Blog P3ID-FDK

Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, Indonesia, Indonesia
Dosen Pengampu Mata Kuliah Tafsir dan Ulumul Qur'an pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta